Selandia Baru, Mambruks.com- Umat Kristen Gloriavale berada di desa Haupiri, Selandia Baru.
Ada sekitar 600 orang yang tidur berjejalan di sebuah asrama sempit dan hidup terisolasi dari dunia luar.Mata pencaharian mereka umumnya bertani dan beternak sapi perah.
Namun, ternyata di balik pemandangan damai itu, tersembunyi sisi kelam di mana pelecehan seksual, eksploitasi dan pencucian otak kerap terjadi di kalangan jemaat lho.
Baca juga: Trailer Film Avatar 2 Rilis, Ceritakan Perang Bawah Laut Pandora
Kisah gelap itu baru terkuak melalui film dokumenter Gloriavale besutan Fergus Grady dan Noel Smyth. Filmnya menceritakan perjuangan panjang anggota membongkar kebusukan “gembala” mereka.
Dengan bantuan tim pengacara, mantan anggota Gloriavale berupaya membongkar sistem hierarkis Gloriavale. Sejauh ini, sudah ada tujuh tuntutan yang dilayangkan terhadap petinggi sekte.
Menurut pengakuan Virginia Courage, yang tinggal bersama anggota Gloriavale sejak kecil, posisi perempuan tak pernah dianggap penting oleh mereka.
“Kami dibesarkan dengan keyakinan saya berutang budi pada mereka, bahwa seluruh hidup saya untuk mereka,” ungkapnya.
Hanya laki-laki yang dapat menduduki puncak hierarki. Mereka biasa disebut “gembala”, sedangkan lainnya dianggap “hamba”.
Baca juga: Sekuel Film “Dune” Akan Hadir Dua Minggu Lebih Awal
Grady dan Smyth hanya bisa berharap film dokumenter mereka mampu mengungkap semua kebenaran yang disembunyikan oleh sekte, dan para anggota mendapat keadilan.
“Telah terjadi ketidakadilan hak asasi di sini,” Smyth menegaskan. “Kami berharap filmnya bisa membawa perubahan. Tentu saja masalahnya tidak akan selesai begitu saja setelah film ini keluar, tapi setidaknya saya harap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat. Kami berusaha keras agar penegak hukum Selandia Baru mengetahui keberadaan komunitas ini.”
“Perubahan bisa terjadi jika kasusnya mendapat banyak perhatian media dan tekanan dari masyarakat.”