Jakarta, Mambruks.com – The Fed kembali menaikan suku bunga di semester 1, Bank Sentral Amerika AS The Fed resmi menaikan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bps) menjadi 2,25-2,5 persen. Hal tersebut dilakukan untuk menyelamatkan ekonomi negara AS karena semakin meningkatnya inflansi di negaranya.
Biasanya kenaikan suku bunga acuan The Fed ini akan mempengaruhi terhadap keluarnya modal asing dari negara – negara berkembang, termasuk Indonesia.
Artikel Menarik:
NATALIUS PIGAI : MENGAPA INDONESIA HARUS PRABOWO-PUAN 2024-2029?
lalu, bagaimana tanggapan atau komentar – komentar dari ahli – ahli ekonomi dan Menteri Keuangan? Berikut komentarnya
Apa Kata Sri Mulyani?
Menurut Sri Mulyani menteri keuangan kenaikan suku bunga acuan The Fed yang signifikan akan berdampak pada kesehatan ekonomi global. Menilik dari sebelumnya, kenaikan suku bunga AS
“Secara historis setiap kali AS menaikkan suku bunga apalagi secara sangat agresif, biasanya diikuti oleh krisis keuangan dari negara-negara emerging seperti yang terjadi pada 1974, 1980-an dan akhir 1980-an,” kata Sri Mulyani dalam konferensi APBN KiTa secara virtual, Rabu 27 Juli 2022 lalu.
Besarnya pengaruh kenaikan suku bunga The Fed terhadap negara berkembang karena mata uangnya (Dolar AS) mendominasi lebih dari 60% transaksi dunia. Sri Mulyani menyebut kondisi ini turut dipantau oleh institusi keuangan seperti Dana Moneter Internasional (IMF).
“Ini jadi salah satu hal yang jadi risiko yang dipantau oleh institusi seperti IMF dalam melihat kerawanan negara-negara developing dan negara-negara emerging,” jelasnya.
Indonesia termasuk negara yang masuk dalam daftar dengan potensi resesi 3%. Meski jauh lebih rendah dibanding banyak negara lain, Sri Mulyani meminta agar semua tetap waspada.
“Kita harus tetap waspada karena semua indikator ekonomi dunia itu mengalami pembalikan yaitu dari tadinya recovery jadi pelemahan. Pada saat yang sama kita juga melihat kompleksitas dari policy yang bisa menimbulkan spillover policy dari moneter di negara-negara maju berpotensi menimbulkan spillover atau imbas negatif ke negara-negara di seluruh dunia termasuk Indonesia harus juga waspada,” ujar Sri Mulyani terkait kenaikan suku bunga The Fed.
Artikel Menarik lainnya:
Ramalan Zodiak 28 Juli 2022, Cancer dan Aries. Karir Salah Satunya Melambung.
Apa Kata Bima Yudhistira Direktur Celios?
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengungkapkan, kenaikan suku bunga Fed 75 basis poin berdampak negatif di pasar keuangan baik pasar modal maupun pasar surat utang.
Karena investor mulai menahan diri untuk masuk ke aset yang risikonya lebih tinggi dan mencermati langkah Bank Indonesia apakah akan menaikan suku bunga untuk imbangi Fed rate.
“Kenaikan tingkat suku bunga Fed ini cukup surprise karena masih ada ruang bagi Fed untuk naik 4 kali lagi sampai akhir tahun demi mengendalikan inflasi di AS,” ucap Bhima kepada Tribunnews.com, Kamis, 28 Juli 2022.
“Kalau Fed naik agresif, dikhawatirkan dana dari negara berkembang semakin banyak ditarik pulang ke negara maju atau masuk ke dollar AS,” lanjutnya.
Maka Bhima mengimbau kepada Pemerintah atau Bank Indonesia untuk mengambil langkah cepat dalam mengantisipasi langkah The Fed.
“Tapi tergantung apa BI masih tetap tahan suku bunga, atau naik 50 bps dalam RDG berikutnya. Kalau BI naikan suku bunga rupiah bisa relatif lebih stabil,” pungkas Bhima.
Terlepas dari kekhawatiran yang disampaikan Sri Mulyani dan Bima Yudhistira, semoga Indonesia tetap bertahan dan semakin membaik dan tidak terimbas buruk kenaikan suku bunga acuan The Fed.