Jakarta, Mambruks.com – Apa itu Empty Sella Syndrome yang sedang ramai menjadi perbincangan? Mungkin sebelumnya kita tidak pernah mendengar terkait penyakit ini. Namun belakangan terdengar ada salah satu artis yang mengaku terkena Empty Sella Syndrome, yaitu Ruben Onsu.
Lalu apa sebetulnya Empty Sella Syndrome tersebut, apakah ini merupakan penyakit berbahaya?
Artikel Menarik:
Download LINK Twibbon Bingkai Foto Hari Anak Nasional 2022.
Apa Empty Sella Syndrome?
Dikutip dari laman National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), Jumat (22/7/2022), empty sella syndrome (ESS) merupakan gangguan yang melibatkan sella tusika, struktur tulang di dasar otak yang mengelilingi dan melindungi kelenjar pituitari (yang berada di dasar otak).
Terdapat dua jenis dari kondisi ESS, yaitu primer dan sekunder. ESS primer terjadi ketika cacat anatomi kecil di atas kelenjar pituitari, memungkinkan cairan tulang belakang mengisi sebagian atau seluruh sella tursika. Sedangkan ESS sekunder adalah hasil dari kemunduran kelenjar pituitari di dalam rongga setelah cedera, pembedahan, atau terapi radiasi.
Menurut keterangan dari Dokter Spesialis Saraf di Rumah Sakit Otak Nasional di Jakarta Timur, dr Viola Maharani Sp.S yang menangani Ruben Onsu, menjelaskan bahwa secara normal, kelenjar pituitary atau hipofisis ini ada pada bagian depan dari dasar tengkorak.
Kelenjar ini berukuran sebesar kacang polong yang terletak di bagian bawah otak. Kelenjar pituitary atau hipofisis ini berfungsi untuk menghasilkan banyak hormon penting bagi metabolisme tubuh kita.
Batasan Bermain Gadget untuk Anak Sesuai Umur
Beberapa jenis hormon yang dihasilkan adalah TSH (thyroid-stimulating hormone), FSH (follicle-stimulating hormone), LH (luteinizing hormone), Kortikotropin, dan hormon pertumbuhan. Ketiga hormon pertama diketahui bertugas untuk mengendlaikan fungsi kelenjar endokrin lainnya.
Selain itu, juga berfungsi untuk merangsang kelenjar tersebut untuk menghasilkan hormon. Saat kelenjar hipofisis ini terganggu, termasuk mengalami penyusutan, maka tidak dapat memproduksi satu atau lebih hormon dalam jumlah yang cukup dan menyebabkan terjadinya kelainan.
Bagaimana Gejala ESS
Kebanyakan kasus ESS tidak memicu gejala tertentu. Namun, jika gejala ESS itu muncul, biasanya dapat berupa:
Sakit kepala Hebat
Tekanan darah tinggi
Kelelahan
Impotensi (pada pria)
Gairah seks rendah
Tidak ada periode menstruasi atau tidak teratur atau gangguan menstruasi (pada wanita)
Infertilitas
Artikel Menarik Lainnya:
Sinopsis Take Me Home, Film Horror Thailand yang telah Tayang di ANTV
Itulah beberapa gejala umum yang biasa dirasakan oleh penderita empty sella syndrome. Kendati demikian, setiap orang bisa mengalami gejala yang berbeda-beda atau tergantung dengan tingkat keparahan yang dialami.
Bagaimana Cara Mengatasi ESS
Ada beberapa cara mengatasi empty sella syndrom, salah satunya dengan CT scan. Ini merupakan tes menggunakan sinar-X dan komputer untuk melihat kondisi di dalam tubuh pengidap.
Dengan melakukan tes ini, nantinya dokter akan mengetahui kondisi di dalam tubuh dan memberi penanganan sesuai penyakit yang diderita.
Selain itu, empty sella syndrom juga bisa diatasi dengan operasi.Cara ini bisa dilakukan oleh mereka yang mengalami kebocoran pada cairan tulang belakang di bagian hidungnya. Tentu saja, operasi ini bisa dilakukan sebelum hal tersebut terjadi agar tidak kejadian.
Terlepas dari itu, menerapkan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan sehat dan olah raga secara teratur, berperan penting untuk menurunkan risiko empty sella syndrom. Dengan begitu, tubuh Anda akan jauh lebih sehat dan terhindar dari berbagai macam penyakit kronis.
Empty sella syndrome sendiri bukanlah suatu kondisi yang bisa mengancam nyawa. Namun, jika kondisi ini tidak segera diatasi, dapat meningkatkan risiko penyakit kronis lainnya dalam tubuh.
Dengan munculnya penyakit – penyakit lain dalam tubuh, ini berarti membahayakan tubuh kita. Maka kita harus senantiasa selalu menjaga kesehatan kita.