spot_img
HeadlinesIni Jadi Kunci Pengungkapan Kasus Penembakan Brigadir J di Rumah Kadiv Propam...

Ini Jadi Kunci Pengungkapan Kasus Penembakan Brigadir J di Rumah Kadiv Propam Polri

Terdapat sejumlah hal yang menjadi kunci agar kasus penembakan Brigadir J cepat terungkap, yakni rekaman CCTV dan percakapan Irjen Ferdy Sambo dan istrinya.

Must read

Jakarta, Mambruks.com-Pengamat kepolisian Sahat Dio mengatakan tim investigasi dipimpin Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono seharusnya tak membutuhkan waktu lama guna mengungkap kasus penembakan Brigadir J di rumah Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo. Menurutnya, terdapat sejumlah hal yang menjadi kunci agar kasus ini cepat terungkap, yakni rekaman CCTV dan percakapan Irjen Ferdy Sambo dan istrinya.

“Harusnya sih, untuk pengungkapan awal dua hari atau bahkan sehari cukup menurut saya,” kata Sahat kepada wartawan, Kamis (14/7).

Pengungkapan awal yang dimaksud ialah pengungkapan yang berfokus menjawab seluruh keraguan dan pertanyaan masyarakat tentang kasus ini. Misalnya mengenai mengapa decoder CCTV di pos keamanan ikut diamankan. Apalagi, kata dia, salah satu CCTV di lokasi itu, mengarah langsung ke kediaman Ferdy.

“Ini kan peristiwanya di dalam rumah, lalu kenapa decoder CCTV di pos ikut diganti atau diamankan? Kalau memang dijadikan barang bukti petugas, isi dari rekaman CCTV tersebut harusnya diungkap pada konferensi pers awal,” kata dia.

Baca Juga: Akui Janggal, Mahfud MD Janji Kawal Tim Investigasi Penembakan Brigadir J di Rumah Irjen Ferdy Sambo

“Sehingga tak menimbulkan informasi atau berita liar yang dimaksud Kapolri kemarin,” imbuh Sahat.

Menurut Sahat, dengan diamankannya decoder CCTV tersebut, menimbulkan beragam pertanyaan publik. Misalnya, apakah benar rekaman CCTV ingin diamankan atau memang hendak ‘disembunyikan’ hasil pantauannya.

“Kalau memang Kapolri ingin tak ada isu liar, hal-hal seperti ini harus secepatnya diungkap, dijelaskan baik oleh tim maupun jajaran lainnya,” kata Sahat.

Mengingat, sambung Sahat, CCTV di rumah Irjen Ferdy Sambo disebut mati. Bukannya percaya, masyarakat malah bertanya-tanya perihal sistem keamanan di rumah jenderal bintang dua tersebut.

“Meskipun itu rumah singgah ya. Tapi ini sesuatu yang menurut publik tak masuk akal, penjaga bersenjata ada, CCTV malah tak ada, rusak,” ungkap dia.

Baca Juga: Soal Kasus Penembakan di Rumah Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo, Polri: Kami Selesaikan dengan Tuntas!

Dengan diungkapnya rekaman CCTV yang berada di pos keamanan, serta di sekitar lingkungan kompleks, diharapkan bisa diketahui posisi Irjen Ferdy Sambo saat kejadian. Lalu, ketibaan sang istri dan sopir yakni Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J di rumah tersebut, serta pihak lainnya. Ini, kata dia sekali lagi guna menjawab keraguan publik.

“Jadi misalnya waktu tiba Irjen Ferdy Sambo di lokasi itu, dicocokkan dengan suara tembakan yang sempat didengar satpam kompleks, apakah sinkron atau tidak. Kapan sang istri tiba di rumah, dengan siapa dan sebagainya. Pengungkapan ini sekaligus menjadi solusi jika benar yang disebutkan dalam keterangan awal, bahwa CCTV di rumah tersebut memang mati,” beber Sahat.

Tim maupun Polri, juga diharapkan membeberkan percakapan telepon antara Irjen Ferdy Sambo dengan sang istri, Putri Candrawathi saat kejadian. Mengingat sebelumnya sang istri disebut histeris kala menelepon Ferdy, gara-gara peristiwa baku tembak yang menewaskan Brigadir J itu.

“Dari situ bisa terungkap kondisi yang sesungguhnya. Jadi bisa terjawab kabar liar misalnya tentang adanya isu asmara, pelaku penembakan bukan Bharada E dan sebagainya,” jelas Sahat.

Sahat berpandangan, semua harapan yang ia dan publik utarakan, sesungguhnya sejalan dengan permintaan Kapolri Jenderal Listyo Sigit tentang pengungkapan kasus yang berpedoman pada scientific crime investigation, atau penyidikan/penyelidikan berbasis ilmiah. Oleh karena itu, sepatutnya tim dan jajaran Polri lainnya tak perlu ragu untuk apa adanya mengungkapkan kasus ini.

“Sehingga pada akhirnya para juru bicara terkait kasus ini tidak cuma mengatakan posisi Irjen Ferdy tak berada di lokasi saat kejadian, tanpa memperlihatkan hasil rekaman CCTV misalnya, atau tak memperdengarkan percakapan telepon dia dengan istri, yang disebut histeris,” kata Sahat.

“Sebab sejak awal masyarakat menilai seakan ada yang hendak ditutupi dalam kasus ini, contohnya bunyi letusan senjata yang dibilang kepada satpam kompleks, hanya acara keluarga terkait Iduladha. Lalu jenazah yang tak dibawa ambulans, dan kasus yang justru pertama kali diungkap oleh pihak keluarga Brigadir J di Jambi sana, bukan dari kepolisian,” lanjutnya.

Baca Juga: Kapolri Bentuk Tim Khusus Ungkap Penembakan Brigadir J di Rumah Kadiv Propam Polri

Sahat berpandangan, penanganan kasus ini akan menjadi catatan penting atau pertaruhan besar bagi institusi Polri dan Kapolri selaku pimpinan tertinggi. Karenanya ia menyarankan, profesionalisme dan transparansi dalam prosesnya benar-benar dikedepankan.

“Yang bersalah katakan salah. Tak peduli brigadir atau jenderal, atau siapa pun. Jangan misalnya karena membela segelintir atau satu orang, rusak institusi. Kasus ini akan menjadi sejarah buruk atau sejarah baik bagi Polri dan Kapolri. Seluruh mata masyarakat saat ini fokus mengarah dan mengawal kasus ini. Silakan lihat komentar netizen di media sosial atau kolom komentar pemberitaan soal ini, jika ingin melihat keriuhan masyarakat akan kasus ini. Sehingga jangan sampai salah melangkah,” pungkasnya.

 

Anda dapat membaca berbagai berita-berita teraktual kami di platform Google News.

spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Recent

Popular