Jakarta, Mambruks.com- Gangguan mental histeria, juga dikenal sebagai gangguan konversi. Kondisi psikologis di mana seseorang mengalami gejala fisik yang timbul akibat dari memiliki penyebab psikologis
Histeria merupakan istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan perilaku bermuatan emosional yang tampaknya berlebihan dan di luar kendali. Ketika seseorang merespons dengan cara yang tampaknya tidak proporsional emosional untuk situasi tersebut, mereka sering digambarkan sebagai “histeris.”
Gejala yang sering terkait dengan histeria termasuk kejang, pingsan, halusinasi, otot kaku, atau mati rasa di bagian tubuh tertentu.
Meskipun histeria dapat terjadi pada siapa saja, kondisi ini lebih umum terjadi pada wanita muda. Dalam beberapa kasus, histeria dapat terkait dengan pengalaman traumatis atau stres berat yang belum terselesaikan.
Penyebab Histeria
Penyebab pasti dari gangguan mental histeria atau gangguan konversi belum sepenuhnya dipahami. Namun, beberapa faktor yang diduga mempengaruhinya antara lain:
1. Pengalaman Traumatis atau Stres Berat
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kejadian traumatis atau stres berat dalam hidup seseorang, seperti pelecehan seksual, kekerasan atau kehilangan yang signifikan, dapat meningkatkan risiko gangguan konversi. Hal ini mungkin terkait dengan cara seseorang bereaksi terhadap stres dan trauma secara emosional dan fisik.
2. Konflik Bawah Sadar
Konflik emosional atau konflik yang tidak disadari dalam pikiran seseorang dapat menyebabkan gejala fisik yang terkait dengan histeria. Misalnya, seseorang yang mengalami konflik antara kesadaran dan dorongan seksual mungkin mengalami kejang atau lumpuh sebagai bentuk “pelarian” dari konflik tersebut.
3. Faktor Kepribadian
Beberapa orang mungkin memiliki kerentanan genetik atau neurobiologis tertentu yang membuat mereka lebih rentan terhadap gangguan konversi. Selain itu, seseorang yang memiliki riwayat kondisi medis lain, seperti gangguan kecemasan atau depresi, juga mungkin memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami histeria.
4. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan, seperti stres kronis, tekanan dari keluarga atau teman, dan situasi kehidupan yang tidak stabil, juga dapat berkontribusi pada munculnya gangguan konversi.
Baca juga: Kenali Gejala Gangguan Kepribadian Paranoid
Cara Mengatasi Histeria
Pengobatan untuk histeria biasanya melibatkan terapi psikologis, seperti kognitif perilaku atau terapi bicara. Terapi psikologis dapat membantu seseorang memahami penyebab gejala fisik mereka dan membantu mereka mengatasi emosi yang mendasari kondisi mereka.
Beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengatasi histeria meliputi:
1. Relaksasi otot progresif
Teknik ini melibatkan mengencangkan dan melepaskan otot di seluruh tubuh untuk membantu mengurangi ketegangan fisik dan emosional.
2. Terapi bicara
Terapis dapat membantu individu untuk mengidentifikasi dan mengatasi faktor penyebab emosional yang mendasari gejala fisik mereka.
3. Terapi kelompok
Bergabung dengan kelompok dukungan dapat membantu seseorang merasa lebih terhubung dengan orang lain yang mengalami kondisi serupa dan memberikan dukungan sosial.
4. Hipnosis
Hipnosis dapat membantu seseorang memahami penyebab emosional yang mendasari kondisi mereka dan mengatasi rasa takut atau kecemasan yang mungkin terkait dengan gejala mereka.
5. Obat-obatan
Obat-obatan tertentu, seperti antidepresan atau antipsikotik, dapat membantu mengurangi gejala fisik yang terkait dengan histeria, meskipun penggunaannya harus selalu disesuaikan dengan saran dari dokter.
Penting untuk diingat bahwa histeria dapat sangat mengganggu dan mengganggu kualitas hidup seseorang. Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat membatasi kemampuan seseorang untuk bekerja atau menjalani kehidupan yang normal. Namun, dengan pengobatan yang tepat, sebagian besar orang dengan histeria dapat mengurangi gejala fisik dan emosional mereka dan memulihkan kualitas hidup yang lebih baik.